jangan lah kamu menuntut ilmu..karena ilmu tidak bersalah :)
Minggu, 17 Agustus 2014
Jumat, 21 Februari 2014
K3LH
makalah usaha
ritel
nama : MUHAMAD RIFKI
kelas : X-TKJ-2
..bisnis ritel makanan (grocery)
sangat menjanjikan..
Hipermarket mengalami pertumbuhan yang sangat pesat
Pada tahun 2010 industri hipermarket di Indonesia mengalami
pertumbuhan yang sangat pesat. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo)
memperkirakan, total belanja ritel modern tahun ini bakal mencapai Rp 100
trilyun. Sebanyak Rp 65 triliun merupakan belanja makanan dan sisanya
non-makanan. Dari jumlah belanja makanan ini, hipermarket mengambil porsi 35
persen, minimarket 35 persen dan supermarket 30 persen. Makanan yang merupakan
kebutuhan pokok manusia, mengharuskan kita mau tidak mau untuk berbelanja
makanan dan minuman setiap harinya. Hal inilah yang menyebabkan mengapa mini
market dan hypermarket pertumbuhannya sangat pesat(Kompas.Com).
Pertumbuhan gerai ritel makanan di hypermarket rata rata 30%
per tahun dan supermarket 7% per tahun dan convenience store/mini market
sekitar 15%. Pada tahun 2003, penjualan sektor ritel modern makanan dikuasai
oleh supermarket 60%, hypermarket 20% dan sisanya 20% oleh convenience
store/mini market.
Potensi Pengembangan Ritel Makanan (Grosery) di
daerah-daerah
Permintaan produk kebutuhan sehari-hari (consumer goods)
masih merupakan permintaan utama. Produk bahan makanan (groceries) mendominasi
sekitar 67% komposisi penjualan barang perdagangan ritel. Sementara untuk
produk non-pangan, penjualan pakaian dan sepatu memberikan kontribusi sebesar
30% barang perdagangan ritel, diikuti penjualan barang-barang elektronik
sebesar 12%, dan penjualan produk kesehatan dan kecantikan sebesar 11%. Potensi
pengembangan pasar ritel modern di Indonesia masih relatif besar terhadap
jumlah populasi penduduk. Jumlah toko ritel modern per satu juta penduduk
Indonesia saat ini sekitar 52, lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara
tetangga lainnya seperti Malaysia 156 toko, Thailand 124 toko, Singapura 281
toko, dan China 74 toko. Jumlah toko ritel modern di Indonesia hanya menempati
porsi yang sangat kecil (0,7%) dibandingkan dengan jumlah toko tradisional per
satu juta penduduk Indonesia yang mencapai 7.937 toko.
Format minimarket mengalami pertumbuhan tertinggi, baik
dilihat dari sisi jumlah gerai toko maupun pangsa perdagangan ritel penjualan
produk fast moving consumer goods (FMCG). Jumlah minimarket di Indonesia pada
tahun 2008 mencapai 10.607 toko dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar
17,3%, tertinggi dibandingkan format ritel modern lainnya, disusul hypermarket
dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 16,9%. Sementara itu, pangsa
perdagangan ritel minimarket untuk penjualan produk FMCG meningkat cukup
signifikan dibandingkan format lainnya, yaitu dari sebesar 5% di tahun 2003
menjadi 16% di tahun 2008.
PT Matahari Putra Prima Tbk (MPP) telah mengambil langkah
inisiatif strategis untuk mengkaji dan menganalisa kegiatan bisnisnya secara
keseluruhan, terkait dengan rencana perusahaan mengembangkan kompetensi inti
dalam bisnis hypermarket-nya. Sebagai pelopor compact hypermarket di Indonesia
dengan model bisnis yang telah teruji, akan terus berfokus kepada bisnis ritel
makanan, melalui fase ekspansi Hypermart ke semua daerah di Indonesia. Selain
itu, streamline semua bisnis non-inti lainnya/bisnis non-hypermarket, guna
memastikan bahwa semua sumber daya MPP dioptimalkan 100%, untuk mendorong
pertumbuhan bisnis Hypermart. Indonesia merupakan negara berpotensi besar dan
memiliki pertumbuhan pasar yang paling menarik secara global diantara negara
berkembang lainnya. Negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia
dengan segmen kelas menengah yang meningkat, ekonomi yang ditopang oleh basis
konsumen yang kuat, daya beli yang terus meningkat dan menghasilkan pertumbuhan
ekonomi tahunan yang kokoh. Sampai saat ini, ekonomi berbasis konsumen yang
kuat ini telah mendorong pertumbuhan PDB negara dan diprediksikan akan terus
tumbuh rata-rata 5,6% per tahun sampai dengan tahun 2014, sedangkan PDB
perkapita diperkirakan akan tumbuh sebesar 11,3% sampai dengan tahun 2014 dan
akan melampaui batas US$ 3.000 di tahun 2012.
Pertumbuhan daerah-daerah di Indonesia juga berlangsung
pesat akhir-akhir ini, baik dari sektor ekonomi, pariwisata maupun pendidikan.
Dimana setiap daerah berkembang dengan potensinya masing-masing. Pertumbuhan
pariwisata dan meningkatnya populasi ekspartriat, menyebabkan peningkatan
jumlah impor. Riteler besar seperti Carrefour Indonesia, Matahari Putra Prima
Tbk, dan Hero Supermarket berhasil meningkatkan penjualan merek, melalui
penjualan produk-produk private label, penawaran promosi yang menarik, dan
ekspansi ke daerah-daerah dan pasar yang belum jenuh.
Peran Pemerintah dalam Pengelolaan Pasar Tradisional dan
Ritel Modern
Keberadaan pasar modern yang meliputi minimarket,
supermarket, hingga hipermarket tidak dapat dihindari. Untuk dapat bersaing,
pasar tradisional harus diperkuat agar konsumen tidak beralih. Kepala Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah Ihwan Sudrajat mengemukakan
hal tersebut di Kota Semarang, Rabu (24/6). Menurut Beliau, pasar modern
memiliki segmen pasar tersendiri sama seperti pasar tradisional, sehingga pilihan
sepenuhnya terletak pada konsumen.
Kita tidak dapat membatasi pasar modern, karena pendiriannya
pun berdasarkan adanya permintaan pasar. Yang harus dilakukan adalah melindungi
pelaku UMKM dan pasar tradisional. Ini adalah tugas dari pemerintah. Aturan untuk
keberadaan pasar modern ada dalam Keputusan Presiden Nomor 112 Tahun 2008
tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko
Modern. Dalam Pasal 5 diatur perihal letak pasar modern segala ukuran, dari
hipermarket yang terbesar hingga minimarket yang terkecil. Dalam aturan
tersebut disebutkan, hipermarket hanya diperbolehkan berlokasi pada akses jalan
utama, supermarket tidak diizinkan berada pada lingkungan perumahan, dan
minimarket diperbolehkan berada di akses jalan pada lingkungan permukiman di
kota.
Sementara itu, penguatan terhadap pasar tradisional,
dilakukan dengan program penataan pasar. Sektor perdagangan mendapatkan alokasi
dana stimulus sebesar Rp 335 miliar yang digunakan untuk program revitalisasi
dan renovasi pasar tradisional sebesar Rp 215 miliar, dan pergudangan Rp 120
miliar. Menurut data yang diperoleh VIVAnews dari salah satu anggota dewan,
sebanyak 123 kabupaten/kota di 11 provinsi rencananya mendapat alokasi stimulus
pasar sebesar Rp 215 miliar.
Pemerintah telah menerima sedikitnya 600 proposal dari 300
daerah di seluruh Indonesia untuk program revitalisasi pasar tradisional. Semua
proposal yang masuk ke Departemen Keuangan akan dibahas pelaksanaannya.
Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri
Gunaryo di Kantor Pengawas Persaingan Usaha mengatakan, ada sekitar Rp 235
miliar dana revitalisasi pasar yang disalurkan melalui Dana Alokasi Khusus
(DAK) dan Dana Perbantuan dari Pemerintah Daerah. Dari proposal yang masuk ke
Departemen Perdagangan, jenis revitalisasi bermacam-macam. “Ada yang
rehabilitasi total, pertambahan luasan, atau renovasi saja,” katanya. Dana yang
disiapkan untuk revitalisasi pasar tradisional tersebut, menurut Gunaryo mulai
Rp 3 miliar atau tergantung daerah dan besaran kasus yang terjadi. “Kini sedang
dibahas di Menteri Keuangan,” tutur Gunaryo.
Proposal rehabilitasi pasar tersebut, katanya, harus melalui
persetujuan Dinas PU di daerah terkait standar bangunan. Gunaryo menambahkan
untuk program revitalisasi pasar tradisional mulai tahun depan, Pemerintah
daerah berkomitmen untuk menambah anggaran pembinaan pasar. Dana stimulus
revitalisasi pasar tradisional tahun ini dikucurkan melalui Departemen
Perdagangan lewat Dana Alokasi Khusus.
Kelemahan pasar tradisional yang harus segera dibenahi :
1. Kurangnya pengelolaan pasar yang baik menyebabkan
tutupnya beberapa pasar tradisional.
2. Kurang nyamannya berbelanja di pasar tradisional,
terutama masalah kebersihan.
3. Kurangnya modal peritel tradisional untuk bisa
mengembangkan usahanya.
4. Harga yang lebih mahal untuk produk tertentu dibanding
harga di pasar modern.
Strategi pengelolaan bisnis ritel modern yang kreatif dan
inovatif
Para pelaku bisnis ritel, baik modern maupun tradisional,
harus lebih meningkatkan promosinya. Menurut data dari Lembaga Riset Nielsen
Indonesia, sepanjang semester pertama 2010, konsumen belum terlalu
memprioritaskan uang belanja untuk membeli makanan, minuman, dan berbagai
kebutuhan harian. Konsumen kelas menengah, justru lebih memilih belanja
kendaraan atau elektronik.
Pertumbuhan penjualan ritel nasional sepanjang Januari
sampai Mei lalu baru mencapai 9 persen jika dibandingkan dengan periode yang
sama tahun 2009. Angka tersebut jauh tertinggal dari pertumbuhan sektor
lainnya. Pertumbuhan penjualan mobil menduduki angka tertinggi 73,5 persen.
Begitu pula sepeda motor sebesar 35,2 persen. Penjualan elektronik rumah tangga
juga meningkat 32,35 persen, sedangkan komputer naik 30 persen.
Saat ini tengah terjadi pergeseran perhatian konsumen dalam
membelanjakan anggaran bulanannya. Terutama kelas menengah atas, masih memilih
belanja big ticket item (mobil, motor, elektronik). Yang secara tidak langsung,
mengindikasikan masyarakat kita semakin mapan.
Seiring berkembangnya teknologi, gaya hidup masyarakat juga
ikut berubah. Sebelum ada teknologi, saat ada waktu luang konsumen bisa pergi
ke warung atau belanja. Begitu ada ponsel dengan segala kecanggihannya, punya
waktu luang sedikit langsung online. Rekreasi di dunia maya dirasa lebih
mengasikan, daripada pergi ke pasar tradisional atau supermarket dan
hypermarket sekalipun.
Sepanjang 2009, total belanja konsumen untuk ritel 56
kategori produk mencapai Rp 99, 653 triliun (tidak termasuk telur, cabai,
beras, dan beberapa sembako). Sementara itu, pada Januari sampai Mei 2010,
total uang yang sudah terbelanjakan Rp 44,685 triliun.
Nielsen melakukan riset tentang tren belanja masyarakat
dengan cara wawancara face to face di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Makassar,
dan Medan. Responden adalah pria dan perempuan usia 15-65 tahun. Total 1.781
narasumber memiliki kemampuan belanja lebih dari Rp 1,250 juta per bulan.
(gen/c6/kim)
Pengusaha ritel sebaiknya lebih kreatif mengemas tempat
berjualan, kemudian mempromosikannya dengan lebih menarik lagi. Berdasar hasil
survei yang dilakukan Nielsen, 19,8 persen konsumen mengungkapkan bahwa faktor
nonfood (kenyamanan tempat, kemasan, promosi, dll) merupakan alasan mereka untuk
datang ke tempat belanja.
Manajemen SDM mempunyai peranan signifikan dalam sebuah
bisnis ritel. Mengkoordinasi dan memotivasi karyawan dalam pencapaian target.
Sampai pada akhirnya terbentuklah sebuah komitmen kerja, yang bisa menyatukan
antarkaryawan, sehingga menghasilkan keuntungan yang kompetitif. Aspek
pemilihan lokasi dalam bisnis ritel juga sangat berpengaruh. Pemilihan lokasi
yang memungkinkan bisnis ritel untuk tumbuh, mengevaluasi keunggulan dari
setiap area perdagangan yang dipilih. Sedangkan sistem keuangan, merupakan
perefleksian strategi ritel menyangkut metode pengelolaan sumber daya (modal,
alat-alat, SDM, dan dll) sehingga tercapai kinerja yang optimal.
Demikian, bisnis ritel makanan memang sangat menjanjikan.
Dilihat dari pertumbuhannya yang sangat pesat setiap tahunnya. Ditambah, pangsa
pasar Indonesia sendiri sudah sangat menjanjikan, negara dengan jumlah penduduk
terbesar keempat di dunia dengan segmen kelas menengah yang meningkat, ekonomi
yang ditopang oleh basis konsumen yang kuat. Tapi bagaimanapun juga, sukses
tidaknya sebuah bisnis, sangat bergantung pada strategi dan menejemen
pengelolaan. Semuanya kembali pada pelaku bisnis itu sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)